Tahukah anda, bahwa penggunaan media sosial pada Anak-Anak bisa membahayakan Kesehatan mental?
Yuk kita lihat data dan hasil sejumlah penelitian tentang hal itu.
Pertama, mari kita lihat data pengguna internet pada anak-anak di Indonesia. Ternyata, dari total 229 juta pengguna internet di Indonesia, angka keterlibatan anak mencapai hampir 80 persen. Mirisnya, bila mengacu pada data dari Unicef, sekitar 50 persen anak Indonesia yang aktif berinternet ternyata pernah terpapar konten seksual di media sosial.
Selain itu, 42 persen anak mengaku pernah merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman mereka di ruang digital. Angka eksploitasi anak secara daring (online) yang dicatat pemerintah juga sangat masif, menembus angka 1,45 juta kasus. (Kompas, 2026).
Lalu, apa dampaknya terhadap kesehatan mental anak-anak?
Survei oleh Manuela Barreto dari University of Exeter pada 2021 menunjukkan, masa remaja, usia 10-24 tahun, sangat rentan terhadap kesepian yang disebabkan oleh isolasi. Isolasi terjadi akibat mereka lebih banyak menghabiskan waktu menyendiri dengan media sosial.
”Kesepian di kalangan remaja di seluruh dunia hampir meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Studi ini menunjukkan bahwa interaksi digital mungkin tidak mengurangi dampak mendalam yang ditimbulkan oleh isolasi pada remaja”, kata Livia Tomova, Dosen Psikologi di Universitas Cardiff, yang turut dalam studi ini. (Ahmad Arif, Kompas, 2024)
Lalu, ada lagi penelitian yang dilakukan WHO, bertajuk ”From Loneliness to Social Connection: Charting a Path to Healthier Societies” yang dipublikasi pada 30 Juni 2025. Kesepian paling banyak ditemukan pada remaja dan masyarakat yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Ada 17-21 persen orang berusia 13-29 tahun yang merasa kesepian, tingkat tertinggi ditemukan pada usia remaja.
Selanjutnya, kondisi kesepian ternyata juga berdampak pada kesehatan fisik. Rasa kesepian dan isolasi sosial bisa meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, diabetes, penurunan kognitif, hingga kematian dini. Masalah ini juga punya dampak mental. Orang yang mengalami kesepian akan dua kali lebih berisiko mengalami depresi. Kesepian pun bisa menyebabkan kecemasan serta pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan mengakhiri hidup.
Kesepian juga memiliki relasi yang kuat dengan bunuh diri. Sama dengan kondisi kesepian, kelompok yang paling rentan mengalami bunuh diri ditemukan pada usia 15-29 tahun. Di Indonesia, tingkat bunuh diri lebih tinggi ditemukan pada perempuan, yaitu 4,8 per 100.000 penduduk. Pada pria, tingkat bunuh diri sebesar 3,7 per 100.000 penduduk.
Data Pusiknas (Pusat Informasi Kriminal Nasional) Polri menunjukkan angka bunuh diri yang terus naik. Pada tahun 2022, tercatat 640 kasus. Pada 2023, naik menjadi 1.288 kasus. Sedangkan pada 2024, naik lagi menjadi 1.445 kasus.
Karena itu, langkah pemerintah yang membatasi penggunaan media sosial pada anak-anak patut kita dukung.
Sudah saatnya, anak-anak lebih mengutamakan berinteraksi secara nyata. Daripada ngobrol di dunia maya, lebih baik bertemu langsung, bertatap muka. Hal Ini akan membuat komunikasi anak-anak jadi lebih bermakna. Interaksi secara langsung juga akan membuat hubungan jadi dekat, menumbuhkan rasa kebersamaan, menularkan rasa kasih sayang. Ini adalah syarat kita bisa hidup sehat.
Apakah anda setuju….??
Penulis : Muhammad Ikhwan

