Tema pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada jurnalisme makin ramai dibicarakan. Salah satu topik yang menarik perhatian adalah kehadirannya yang justru semakin mengancam bisnis media, khususnya media siber.
Bahwa AI bermanfaat untuk membantu tugas-tugas jurnalisme, tentu tak dapat dibantah. Sejumlah penelitian sudah membuktikan hal itu. Salah satunya dilakukan BBC Media Action yang mewawancarai 212 jurnalis di Indonesia sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026. Hasilnya, 75 persen (159) jurnalis mengaku menggunakan AI dalam pekerjaannya. 53 persen di antaranya bahkan sudah sangat tergantung pada AI. Artinya, ai sudah menjadi bagian dari rutinitas pekerjaan (workflow).
Chatgpt masih menjadi yang paling popular. 86 persen responden menggunakan tools tersebut. Selebihnya menggunakan Gemini (63%), Deepseek (12%), Copilot (9%), dan notebooklm (6%). Kebanyakan, mereka menggunakan AI untuk mencari ide (56%), editing (49%), membuat judul atau caption (45%), dan mencari data/informasi (44%).
Data-data tersebut menggambarkan bahwa AI sudah bukan lagi barang asing. Namun, disisi lain, pemanfaatan AI justru menyisakan ruang masalah, yang membuat bisnis media justru semakin terpuruk. Kok bisa?
Anjloknya jumlah pengunjung ke situs berita
Pertama, kehadiran AI justru menyebabkan penurunan jumlah pengunjung yang langsung meng-klik ke alamat website portal berita (direct visitor). Mengutip pernyataan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, dalam rilis riset BBC Media Action baru-baru ini, penurunan organic traffic pada media siber mencapai lebih dari 50 persen. Sebuah kondisi yang miris di tengah realitas bisnis media yang semakin hari semakin suram.
Media sebesar The New York Times juga ikut terkena dampaknya. Menurut data dari Similarweb, The Times mengalami penurunan proporsi arus kunjungan dari pencarian organik ke situs desktop dan mobile mereka dari 44 persen menjadi hanya 36,5 persen pada April 2025.
Mengapa terjadi penurunan? Penyebabnya adalah kehadiran AI overview di halaman paling depan mesin pencari Google. Fitur ini menyediakan ringkasan berbasis AI generatif yang muncul di bagian atas hasil pencarian. Kehadiran fitur ini menjadi alternatif bagi pengguna saat mencari informasi. Faktanya, pengguna lebih banyak yang berkunjung ke AI overview daripada mengklik tautan website yang disediakan di bawahnya.
Mengapa? Karena pengguna lebih mencari jalan cepat untuk mendapatkan informasi. Fitur AI overview berisi rangkuman yang membuat pengguna bisa mendapatkan jawaban cepat dan ringkas dari berbagai sumber. Fitur yang sebelumnya dikenal sebagai SGE (search generative experience) ini didukung oleh model AI Google, Gemini. Dengan fitur ini, pengguna dimanjakan dengan kemudahan mendapatkan jawaban tanpa harus membuka banyak situs web. Selain itu, fitur ini juga mampu merangkum jawaban dari berbagai sumber informasi untuk menjelaskan topik yang rumit. Fitur ini juga menyediakan tautan jika pengguna ingin menggali lebih dalam dan terhubung dengan sumber aslinya.
Dengan keunggulan itu, pengguna tidak perlu lagi mengklik tautan aslinya. Maka, akibatnya, peluang portal berita untuk mendapatkan pengunjung dari mesin pencari semakin sedikit. Padahal, selama ini, situs berita sangat mengandalkan mesin pencari untuk meraup pengunjung. Karena itu, kehadiran AI overviews ini justru membuat beban hidup situs berita semakin berat.
Padahal, tanpa AI overviews pun, pengunjung yang langsung ke situs berita sudah sangat sedikit. Pengunjung lebih asyik mencari berita dari Google Search dan berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram dan Tiktok. Belum lagi kehadiran media agregator yang berseliweran di dunia maya ikut menggerus pembaca situs berita. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga.
Karena semakin sedikit pengunjung yang datang langsung ke website, potensi iklan juga semakin sedikit. Di sini berlaku hukum ekonomi klasik. Semakin sedikit pengunjung media, maka pemasang iklan akan semakin sedikit. Karena pemasang iklan ingin produk yang dipajang dilihat banyak orang, bukan sekadar pajangan untuk memperindah tampilan halaman media.
Pengambilan data tanpa izin
Kedua, kehadiran AI tidak memberikan keuntungan apa pun bagi situs berita sebagai penyedia atau sumber data. Sementara yang diuntungkan adalah perusahaan atau pengembang AI itu sendiri. Padahal, data-data yang mereka olah di mesin pembelajarannya, banyak dipasok dari situs berita. Dalam hal ini, berlaku sloga, “Elu yang untung, gue yang rugi. Padahal elu bisa untung karena gue”.
Mesti diingat, AI bekerja berdasarkan data yang tersebar di dunia maya. Data-data itu bersumber dari berbagai situs web, termasuk portal berita. Selain itu, juga bersumber dari percakapan pengguna di media sosial dan data perusahaan dan kumpulan data yang ada di internet. Proses penarikan data oleh pengembang AI ini biasa dikenal sebagai scrolling data.
Data (baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur) yang masih mentah dari berbagai sumber itu kemudian dikumpulkan dan dibersihkan dari “noise” (ketidakakuratan), diformat ulang, dan dilabeli agar dapat dimengerti oleh mesin. Algoritma dengan mesin pembelajaran, kemudian mempelajari pola dalam data, sehingga ia bisa memprediksi hasil. Setelah dilatih, AI menggunakan model tersebut untuk menganalisis data baru dan mengambil tindakan atau memberikan prediksi.
Artinya, tanpa data, AI tidak akan bisa apa-apa. Data adalah jantungnya AI . Sementara situs berita yang data dan informasinya akurat dan bisa dipercaya (karena menjalankan prosedur jurnalistik) menjadi salah satu pemasok utamanya. Bayangkan, di dunia saat ini terdapat lebih dari 1,34 miliar situs web aktif, dengan ribuan di antaranya adalah situs berita, termasuk ratusan yang populer.
Di Indonesia, hingga awal 2023, ada lebih dari 1.700 perusahaan pers yang terverifikasi Dewan Pers. Lebih dari 900 di antaranya adalah media siber/online. Dengan jumlah yang begitu banyak, tentu perusahaan media punya kontribusi besar dalam menyediakan data. Karena itu, sudah sewajarnya perusahaan pengembang AI ikut memberikan keuntungan materi yang diperolehnya kepada perusahaan media (publisher). Namun, yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Triliunan rupiah nilai ekonomi dari keringat jurnalis, justru dinikmati perusahaan raksasa teknologi dunia, tanpa meninggalkan sepeserpun untuk pembuat aslinya.
Lihat saja bagaimana pendapatan OpenAI, pengembang Chatgpt, terus melonjak setiap tahunnya. Bahkan dalam dua tahun terakhir. Meningkat hingga hampir 10 kali lipat. Cuan dengan annual recurring revenue (ARR) pada 2025 mencapai angka 20 miliar dolar AS (sekitar Rp 339,2 triliun). Naik tajam dari 2024 yang mencapai 6 miliar dolar AS (sekitar Rp 101,7 triliun). Sementara pada 2023, keuntungannya menyentuh 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 33,9 triliun).
Itulah mengapa media terkemuka di AS, The New York Times, melarang kontennya diambil oleh pengembang AI. Sebuah sikap yang lahir dari kesadaran bahwa ada ketidakadilan dalam ekosistem pengembangan AI yang terjadi hari ini. Pada akhir 2023, The New York Times mengajukan gugatan federal terhadap OpenAI dan Microsoft karena menggunakan berita-berita mereka untuk melatih chatbot kecerdasan buatan (AI). The Times mengatakan kedua perusahaan teknologi itu mengancam sumber pendapatannya karena mencuri hasil kerja para jurnalisnya yang bernilai miliaran dolar.
Pada akhir 2025, perusahaan media ini juga mengajukan gugatan hukum terhadap Perplexity AI. Dalam gugatan tersebut, The New York Times menuduh Perplexity AI, sebuah startup kecerdasan buatan, menyalin jutaan artikelnya tanpa izin resmi. Perplexity AI tidak hanya menghadapi gugatan dari The New York Times, tetapi juga dari beberapa penerbit besar lainnya.
Apa yang dilakukan The New York Times dan penggugat lainnya menyisakan pelajaran bahwa AI harus disikapi secara kritis. Hal penting lainnya, karya tulis memiliki hak kekayaan intelektual yang wajib dibayar. Keringat para jurnalis harus dibayar sepadan sesuai kontribusinya. Di sisi lain, perusahaan media sebagai penyedia, selayaknya ikut kecipratan keuntungan dari bisnis AI yang semakin lama semakin menggurita.
Penulis : Muhammad Ikhwan

