17 April 2026

Malam Syahdu di 10 Terakhir Ramadan

10 hari terakhir biasanya dimanfaatkan umat Muslim dengan memperbanyak ibadah. Salah satu yang biasanya dilakukan adalah itikaf di masjid.

Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah. Seseorang akan menghabiskan waktunya dengan beribadah kepada Allah SWT. Seperti sholat wajib lima waktu, sholat sunnat, tadarus, berzikir dan ibadah lainnya.

Di momen ini, sejumlah masjid telah menyediakan berbagai program dan fasilitas untuk pelaksanaan itikaf. Mereka biasanya menyediakan makanan dari mulai berbuka puasa hingga sahur. Juga sejumlah aktivitas ibadah dengan mengundang penceramah dan imam salat dari luar.

Salah satu masjid yang menyediakan fasilitas itikaf ini adalah Masjid Raya Bintaro Jaya. Sesuai namanya mesjid berada di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Mesjid ini sudah dikenal dengan berbagai program dakwah yang dikelola dengan baik oleh pengurus mesjid. Termasuk saat 10 terakhir Ramadan tahun ini.

 

Selama puasa. Masjid ini menyediakan 100 porsi nasi kotak untuk berbuka puasa. Selama sebulan, berarti 30 ribu porsi.

 

Saya berkesempatan ikut meramaikan itikaf di masjid ini. Usai ada kegiatan di kampus, saya melanjutkan perjalanan ke masjid ini dan tiba setelah Ashar. Alhamdulillah, masih bisa ikut buka bersama. Ada ratusan atau bahkan lebih dari seribu jemaah yang ikut. Duduk teratur beralaskan terpal, di bawah tenda yang dipasang di halaman masjid. Jemaah laki-laki dipisah dari jemaah perempuan menggunakan pembatas. Jelang waktu berbuka, panitia sibuk membagikan air mineral, 3 buah kurma yang dikemas dalam bungkus plastik kecil, dan nasi kotak.

 

Saat azan tiba, semua jemaah membatalkan puasanya. Makan kurma dan makan dari menu yang ada di kotak. Teratur dan khusyuk. Sebuah momen yang menggambarkan kebersamaan. Waktu sholat maghrib mundur 20 menit demi memberi waktu bagi buka puasa.

Sholat maghrib dan isya, dipenuhi jemaah. Malam itu adalah malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan, yang dipercaya sebagai malam baik. Bertepatan pula dengan malam Jumat. Tak heran, ruang utama salat dan selasar masjid disesaki jemaah.

Usai Isya, jemaah beribadah masing-masing. Ada yang tilawah Al-Qur’an, salat sunat dan zikir. Yang lain sibuk menyiapkan tempat tidur. Untuk tidur, hanya dibolehkan di selasar dan di perpustakaan masjid. Untuk jemaah perempuan, ditempatkan di ruang bawah. Sebagian lain memanfaatkan waktu untuk mengisi perut. Di halaman masjid, ada Kampung Ramadan yang berisi banyak stan penjual makanan dan minuman. Ada juga kafe dan minimarket. Bisa dibilang, masjid ini memiliki fasilitas yang lengkap.

Jelang tengah malam, suasana semakin sepi. Di ruang utama, ramai suara mengaji yang dilantunkan oleh ratusan jemaah. Dari informasi yang tertera di slide, salat malam (qiyamul lail) akan dimulai jam 2 dini hari.

 

Ini adalah saat yang tepat untuk beribadah. Memaksimalkan doa dan munajat pada Illahi robbi. Saat yang tepat untuk tilawah, menyelami indahnya lantunan ayat suci dengan terjemahnya. Setiap jemaah asyik dengan ibadahnya. Sementara di selasar, tampak seperti pengungsian. Jemaah tidur. Dari dewasa hingga anak-anak. Semuanya menyatu.

 

Sholat malam tiba. Ratusan jemaah telah bangun dan bersiap. Malam itu, imamnya adalah Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al Munawar, M.A. Ia dikenal sebagai cendekiawan Muslim dan mantan Menteri Agama pada 2001-2004. Lantunan indah ayat-ayat suci menemani jemaah selama delapan rakaat sholat Tahajud. Ditambah 3 rakat sholat Witir. Suasana begitu syahdu. Lantunan ayat-ayat suci memenuhi seisi ruangan. Di luar masjid, gelap dan sepi. Kombinasi yang begitu menggetarkan jiwa. Sebagian jemaah menangis.

 

Usai sholat, dilanjutkan dengan doa dan muhasabah. Muhasabah artinya aktivitas evaluasi atau introspeksi diri untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah. Doa-doa disampaikan dengan refleksi atas berbagai dosa dan kesalahan yang telah dilakukan selama hidup. Ini menjadi momen yang paling menggetarkan. Hampir semua jemaah menumpahkan air mata.

 

Hingga tiba waktunya santap sahur. Panitia telah menyiapkan 600 nasi kotak. Jemaah peserta itikaf telah mendaftarkan diri dan diberi kupon. Yang tidak dapat kupon juga tetap kebagian. Makan bersama, sambil bercengkerama, saling sapa. Karena jemaah datang dari mana-mana.

 

Itikaf ini menjadi momen yang berharga. Tak hanya memperkuat amal ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari memperkuat silaturahmi antarsesama Muslim.

 

 

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *